Oleh: Sobih Adnan*
Tulisan ini sebelumnya dimuat dalam harian KABAR CIREBON, Edisi Senin 10 Januari 2012 ______________________________________________________________Di samping kekayaan khazanah keilmuan yang dikandungnya, sistem kelembagaan pesantren juga memiliki sebuah kecenderungan yang peka terhadap tuntutan masyarakat.
Dunia pesantren adalah sebuah ruang yang penuh sesak dengan ilmu pengetahuan. Dalam rutinitas kesehariannya, para santri –peserta didik- senantiasa dituntut untuk menimba berbagai literatur penunjang keagamaan dari berbagai sumber dan titik analisis. Moral, tata bahasa, spiritual, hingga sejarah. Meskipun di tahun 1926, pesantren modern Gontor Ponorogo – Jawa Timur mempelopori pendidikan pesantren yang memiliki konsentrasi khusus dalam bidang ketata-bahasaan asingnya, serta dalam keberlanjutan perkembangan pondok-pondok pesantren lain yang juga memunculkan kesan kuat pada masing-masing fan keilmuan, seperti Ulumul Qur’an, Tajwid, Fiqih, tashawuf, dan varian cabang keilmuan lainnya. Akan tetapi paling tidak, kekhususan tersebut tidak sampai menyebabkan sebuah kelunturan tradisi pesantren tentang kekayaan kajian yang disajikan oleh para Kyai dan segenap jajaran pendidiknya. Continue reading