JURNALISME PESANTREN

a32ab8634b9a333d8a4ef06963fdc251

Oleh: Sobih Adnan*

 Di samping kekayaan khazanah keilmuan yang dikandungnya, sistem kelembagaan pesantren juga memiliki sebuah kecenderungan yang peka terhadap tuntutan masyarakat.

Tulisan ini sebelumnya dimuat dalam harian KABAR CIREBON, Edisi Senin 10 Januari 2012
______________________________________________________________

Dunia pesantren adalah sebuah ruang yang penuh sesak dengan ilmu pengetahuan. Dalam rutinitas kesehariannya, para santri –peserta didik- senantiasa dituntut untuk menimba berbagai literatur penunjang keagamaan dari berbagai sumber dan titik analisis. Moral, tata bahasa, spiritual, hingga sejarah. Meskipun di tahun 1926, pesantren modern Gontor Ponorogo – Jawa Timur mempelopori pendidikan pesantren yang memiliki konsentrasi khusus dalam bidang ketata-bahasaan asingnya, serta dalam keberlanjutan perkembangan pondok-pondok pesantren lain yang juga memunculkan kesan kuat pada masing-masing fan keilmuan, seperti Ulumul Qur’an, Tajwid, Fiqih, tashawuf, dan varian cabang keilmuan lainnya. Akan tetapi paling tidak, kekhususan tersebut tidak sampai menyebabkan sebuah kelunturan tradisi pesantren tentang kekayaan kajian yang disajikan oleh para Kyai dan segenap jajaran pendidiknya. Continue reading

AKULAH KEMANUSIAAN

Foto Gus Dur 1

Oleh:  Buya KH. Husein Muhammad*

Tak ada yang menyangkal bahwa Gus Dur adalah symbol dan ikon pembaruan dalam pemikiran dan kehidupan social dalam dunia muslim, khususnya di Indonesia. Hampir seluruh hidupnya diabdikan bagi kepentingan ini. Ia hadir dengan pikiran dan gagasan yang sungguh-sungguh mengagumkan sekaligus menggairahkan bagi upaya-upaya pembaruan ini. Sumber-sumber intelektualismenya sangat luas, mendalam dan terbuka. Gus Dur tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam klasik yang menjadi basis pengetahuan awalnya, tetapi juga pengetahuan social, budaya, seni, sastra, politik dan agama-agama dunia. Pengetahuan Gus Dur melampaui sekat-sekat primordialisme. Ia membaca dengan lahap dan menyerap dengan riang pikiran-pikiran para tokoh dunia, klasik maupun modern, tanpa melihat asal usul dan keyakinan mereka. Gus Dur bukan hanya memahami semuanya itu dengan sangat baik tetapi juga mengapresiasi dengan sepenuh hati. Continue reading

SUMPAH PEMUDA: MELALUI TULISAN, MENGUBAH BANGSA

sumpah-okkkk (1)

Oleh: Sobih Adnan*

Babak awal era kebangkitan semangat persatuan bangsa Indonesia mungkin dapat kita telusuri jejaknya semenjak diselenggarakannya simposium raksasa yang menghasilkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Terdapat tiga agenda penting yang diusung dalam pertemuan para aktifis muda tersebut. Di antaranya tekad persatuan rasa, persatuan bangsa, dan persatuan bahasa. Pada mulanya menurut beberapa pakar sejarah mengatakan pertemuan tersebut tidak akan begitu menyedot perhatian dunia jika saja dalam satu hari sebelumnya -27 Oktober 1928-  tidak dimuat sebuah tulisan dan lirik lagu Indonesia Raya dalam harian Sin Po  oleh WR. Supratman yang kala itu berumur 25 tahun. Tulisan tersebut merupakan sebuah penanda kelahiran nasionalisme bangsa Indonesia sebagai terusan dari Hindia Belanda untuk menghindari terpecahnya rakyat menjadi koloni-koloni.

               Saat itu WR. Supratman membubuhkan tulisan berjudul “Lagoe Kebangsaan” disertai dengan lirik Indonesia Raja dengan tujuan menarik perhatian masyarakat Indonesia untuk ikut serta mendukung dilaksanakannya Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) di Jakarta. Setelah itu beberapa artikel yang mengukuhkan hasil dari kongres tersebut terus ditulis dan diterbitkan dalam koran yang sama hingga satu pekan berturut-turut. Salah satu di antara tulisan yang banyak menarik perhatian rakyat sehingga penggunaan term “Indonesia” lebih diakui untuk menggantikan “Hindia Belanda” adalah sebuah tulisan dengan judul Rapat Kaoem Moeda Indonesia yang termuat dalam rubrik Tjatatan koran Sin Po edisi 1 November 1928.  Continue reading